Idul Fitri
Monday, October 31st, 2005Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1426H
Mohon Maaf Lahir dan Batin-Mutiara - Agus - Bilah -
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1426H
Mohon Maaf Lahir dan Batin-Mutiara - Agus - Bilah -
Pagi ini buka-buka link blog, dapat blognya mbak Tika di Swedia. Dengerin lagu Sunshine in the Rain. Jadinya ingat saat kami sekeluarga berjauhan (2000 - 2003), ingat Almy yang pisahan juga ama si dia nya
, ingat mbak Rini yang lagi di Yogya, ingat teman yang di Bandung, Surabaya, Jakarta, Medan dan dimana saja. Pokoknya jadi KANGEN. Mungkin karena saat ini masuk musim gugur yang mulai panas - dingin tak tentu waktu, daun-daun mulai menguning dan rontok, dan matahari mulai meredup dan mendung diselingi hujan. Klop deh membuat suasana hati jadi gimana…. gitu hehe..
Lagunya bisa didengerin di blog-nya mbak Tika (maaf ya mbak… gak bilang-bilang, gak tahu gimana nulis pesannya ke mbak). Ini lirikrnya diambil dari electronordica …, kali aja ada teman-teman yang sedang pisahan ama si dia nya
SUNSHINE IN THE RAIN
When I’m in Berlin you’re off to London
When I’m in New York you’re doing Rome
All those crazy nights we spend together
As voices on the phone
Wishing we could be more telepathic
Tired of the nights I sleep alone
Wishing we could redirect the traffic
And we find ourselves a home
Can you feel the raindrops in the desert
Have you seen the sunrays in the dark
Do you feel my love when I’m not present
Standing by your side while miles apart
Sunshine in the rain
Love is still the same
Sunshine in the rain
Sunshine in the rain
Love is still the same
Sunshine in the rain
Even if we call the highest power
We can only do one town a time
Words are not enough action speaks louder
Second time around
Can you feel the raindrops in the desert
Have you seen the sunrays in the dark
Do you feel my love when I’m not present
Standing by your side while miles apart
Sunshine in the rain
Love is still the same
Sunshine in the rain
Sunshine in the rain
Love is still the same
Sunshine in the rain
Oh oh la la la
Oh oh la la la
When I’m in Berlin you’re off to London
When I’m in New York you’re doing Rome
All those crazy nights we spend together
As voices on the phone
Can you feel the raindrops in the desert
Have you seen the sunrays in the dark
Do you feel my love when I’m not present
Standing by your side while miles apart
Sunshine in the rain
Love is still the same
Sunshine in the rain
Sunshine in the rain
Love is still the same
Sunshine in the rain
Written by Bard/Hansson.
Published by Bulldozer Music/Universal Music Publishing AB/Saphary Songs/BMG Music Publishing Scandinavia AB. Produced by Anders Hansson and Alexander Bard at Eclectic Studios, Stockholm. Additional live strings by Erik Arvinder. Backing vocals by Karin Westerberg. Mixed by Ronny Lahti at Megaphon Studios, Stockholm.
Bahasa Indonesia Pagi ini selepas sahur saya membaca Kompas online. Salah satu yang begitu terkesan adalah membaca artikel ini, mengenai kecintaan kita terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadi ingat tahun 2002, saat itu akan berlangsung survei Tentu saja saya langsung menyetujuinya. Dua kali seminggu, setiap Ada kejadian yang buat saya cukup memalukan sebagai orang Indonesia. Pengalaman selama di IfM bertemu beberapa orang Jerman yang sudah Jadi… kenapa kita tidak berbangga juga memiliki dan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar ?
hidro-oseanografi di Selat Sunda melalui program kerja sama
Indonesia-Jerman Pre JIGSE. Salah seorang staf IfM ,
yaitu Herr Schultz akan ikut serta dalam survei tersebut. Tiga minggu
sebelum tanggal keberangkatannya ke Indonesia, beliau mengetuk pintu
ruangan saya dan mengajak saya berbincang-bincang. Beliau telah
mengenal saya karena pada tahun 2001 sebelumnya saya mengikuti ekskursi
mahasiswa dan beliau adalah salah satu tutor untuk peralatan
oseanografi seperti CTD. Kembali ke perbincangan tadi, beliau cerita
akan ikut serta dalam survei tersebut selama 10 hari, dan selanjutnya
ingin berjalan-jalan menikmati keindahan Indonesia. Beliau ingin, jika
saya tidak keberatan untuk menjadi teman tandemnya
belajar berbahasa Indonesia. Selain mungkin juga saya memberikan
saran-saran mengenai daerah-daerah mana yang bagus untuk dikunjungi.
Selasa dan Kamis, masing-masing satu jam selama 3 minggu saya datang ke
ruangan beliau untuk tandem bahasa Indonesia-Jerman. Dimulai dari
kalimat-kalimat yang umum dipakai seperti Guten Morgen … Selamat Pagi atau Guten Appetit.. Selamat Makan dan seterusnya. Termasuk juga kata-kata yang hanya sebagai penekanan saja seperti …. Tolong dong…kerjakan ini, karena kata tolong dalam kamus bisa berarti hilfe = help, sementara pengertian dalam kata-kata tadi seharusnya berarti bitte = please.
Penggunaan kata-kata yang demikian akhirnya membuat beliau cukup
bingung. Ternyata perkembangan bahasa Indonesia yang sudah
tercampur-campur bahasa daerah atau bahasa asing, ditambah lagi
campuran dari logat suatu daerah, maka terbentuk kata atau susunan
kalimat yang akhirnya sulit diterjemahkan ke bahasa asing.
Pada suatu kesempatan dia menanyakan satu kata dalam bahasa Jerman dan
saya lupa sama sekali kata-kata itu apa dalam bahasa Indonesia. Justru
saya dapat menjelaskan uraiannya lagi dalam bahasa Jerman. Seminggu
kemudian kami bertemu lagi…eh… beliau lebih dulu mendapatkan kata
itu dalam bahasa Indonesia. Malu….
pernah ke Indonesia atau pernah mengenal orang Indonesia, mereka sangat
senang bisa berbahasa Indonesia. Mereka merasa bangga bisa berbahasa
Indonesia, walaupun mereka sangat bangga dan menghargai kita bila
berdiskusi dalam bahasa Jerman walaupun terbata-bata. Ni Londo salah satu teman terdekat yang jago banget… berbahasa Indonesia (bahkan bahasa Jawa kromo inggil hehe…)
(* Melanjutkan tulisan yang lalu tentang proyek di blog ini juga. *)
Setelah luar biasa pusing dan ribetnya mengenai permintaan biaya sekian prosen buat ini itu, minggu ini kembali muncul permasalahan kepercayaan, etiket bekerja, dan hubungan kerjasam.
Kadang orang yang sudah kita percaya betul pun bisa tiba-tiba mengubah ’sesuatu hal’ sehingga kadar kepercayaan kita berkurang bahkan hilang. Kadang orang tersebut bisa saja menyisihkan etiket bekerja sama yang penting dia mendapat keuntungan, bahkan kalau bisa sebesar-besarnya. Tentu saja .. pada akhirnya hubungan kerjasama dengan orang yang bersangkutan tidak dapat lagi diharapkan. Kekecewaan muncul deh….
Ternyata itulah bisnis… begitu katanya (?)….
Kalau baca tulisan ini trus jadi pusing apa sih yang saya tulis ini… nah begitu deh pusingnya saya juga.
Alhamdulillah sampai hari ini masih ada rasa kepercayaan itu dari teman dan orang terdekat. Thanks.
KJRI Hamburg, 15 Oktober 2005
Tahun ke-5 berpuasa di negara empat musim ini kita dapat merasakan adanya perputaran waktu, bergantinya siang dan malam, serta bergantinya musim yang memberikan nuansa tersendiri di bulan suci Ramadhan. Jika di tahun 2000 saya berpuasa pertama kali di Hamburg jatuh pada bulan Desember yang merupakan musim dingin, tahun ini bulan Ramadhan jatuh pada bulan Oktober di musim gugur. Perbedaan siang dan malam yang menentukan panjang pendeknya jam berpuasa pun memberikan nuansa tersendiri pada bulan suci ini. Jika di musim dingin lalu jam puasa menjadi pendek antara jam 7-8 pagi hingga 16 sore, maka di tahun ini yang jatuh pada musim gugur jam puasa menjadi lebih panjang antara jam 6 pagi hingga 18-19 malam.
Kenikmatan saat berbuka puasa pun terasa lain. Sabtu tgl 15 Oktober 2005, acara berbuka puasa di konsulat RI di Hamburg, cukup ramai. Makanan untuk berbuka puasa cukup banyak, walaupun tidak ada kolak, kue-kue tradisional Indonesia banyak ragamnya. Makan malam pun tersedia cukup banyak dengan berbagai hidangan yang dibawa sebagian oleh masing-masing keluarga yang hadir. Sayangnya… kadang-kadang (seperti minggu lalu) masakan-masakan khas Indonesia itu cukup pedas dan bersantan sehingga anak-anak tidak dapat ikut makan.
Beberapa tahun yang lalu anak-anak dari beberapa keluarga Indonesia masih kecil-kecil, sehingga cukup membuat ‘ribut’ baik saat ceramah maupun sholat tarawih, sehingga dibahas cukup serius kenapa anak-anak tidak dapat tenang? Ada yang berpendapat orang tua yang harus mengajarkan anak-anaknya, namun ada yang berpendapat biarkan anak-anak apa adanya menikmati Stimmung suasana bulan Ramadhan. Setelah 5 tahun, dengan berjalannya waktu, anak-anak itu semakin besar, yang bisa dirasakan perbedaannya kemarin sore suasana cukup tenang. Saat ceramah beberapa anak bermain di luar ruangan, tanpa keributan. Saat sholat mereka ikut dengan tenangnya. Alhamdulillah… Mungkin suasana bulan Ramadhan memang harus diciptakan sejak kecil dari lingkungan keluarga, sehingga saat mulai beranjak besar anak-anak dengan sendirinya bisa mengikutinya. Bukan suatu paksaan. Apalagi di negara yang sebagian besar non muslim ini, suasana Ramadhan tidak ada dengan sendirinya. Kita sendiri sebagai orang muslim yang harus membuat suasana ini ada, terutama untuk anak-anak.
( * katagorinya ‘Current Affairs’ biar seru hihi…. *)
Proyek.. proyek.. mroyek…
Seminggu setelah liburan, waktu terisi penuh ama koreksi proposal proyek yang pernah ditulis disini tentang potensi Indonesia bagian timur. Minggu depan rencananya dipresentasikan, trus… tender.
Soal proposal sih… it’s ok, so wieso yang saya tulis memang pekerjaan saya.
Yang akhirnya bikin jadi seperti Affair itu… urusan penghitungan biaya. Saya sudah menghitung biaya seefisien mungkin, sehingga diharapkan hasil optimal. Eh… ternyata banyak hal yang bikin saya kaget-kaget, banyak tambahan sekian prosen buat perusahaan, sekian prosen buat tim dalam, sekian prosen buat ini-itu, dan sekian prosen pajak, sehingga bertambah sekian puluh prosen dari total sekian M. Bisa dibayangkan… 1% dari 1 M aja udah 10juta, kalau udah sampai sekian puluh prosen dari sekian M …. wow… saya yang menghitung aja gak kebayang…
Sekarang yang jadi bikin tambah bikin pusing bagaimana Indonesia mau membangun negara dengan menggunakan potensi yang ada, jika untuk satu potensi alam yang ada diambil sekian puluh prosen untuk kepentingan yang bisa dikatakan ‘pribadi’?
Mungkin memang kembali pada kekuatan iman dan niat kita dalam bekerja di jalan Allah.
Semalam baru balik dari liburan. Karena sempat dengerin berita bom di Bali yang cuma sepotong saat di hotel, maka sesampai rumah langsung ‘gatel’ pengin baca internet.
Saat nyalain komputer… waduh… gak bisa. Hiks… ternyata saat hari Jumat lalu matiin komputer, knop pemutus hubungan listrik di CPU gak dimatikan, trus saya cabut aja saklarnya. Eh ternyata kalau dicabut semua mati termasuk telepon. Jadi saya pasang lagi saklarnya tanpa lihat-lihat komputernya lagi. Trus pergi aja. Ternyata sejak 3-4 hari ditinggal pergi, kipas prosessor tetap bekerja, tapi komputer mati. Celakanya sekarang… knop on off nya CPU tidak berfungsi….hiks… jadi sampai hari ini belum bisa pakai komputer dirumah.
Sedih banget deh…
Cerita jalan-jalannya besok lagi deh… kalau udah mood….